TREND PERKEMBANGAN TEKNOLOGI
Aplikasi Internet
terhadap Komputer Perkantoran
Latar belakang artikel ini adalah melihat perkembangan dunia telekomunikasi
di Indonesia yang berjalan dengan sangat cepat. Seiring dengan perkembangan
teknologi hubungan antar sesama manusia dapat lebih mudah untuk dijangkau,
sehingga kebutuhan komunikasi pada saat ini tidak selalu terkait ruang dan
waktu. Salah satunya dengan adanya teknologi telekonferensi.
Teknologi telekonferensi memadukan antara dua macam format audio dan
visual. Teknologi ini tentunya membutuhkan sebuah jaringan berkecapatan tinggi
agar kemampuan dalam mengirimkan sinyal dapat diterima dengan baik. Teknologi
ini sangat membantu sekali sebab kita tidak perlu berkomunikasi dengan terikat
ruang dan waktu. Teknologi ini bisa dibilang lebih mirip dengan teknologi 3G
diponsel.
Teknologi telekonferensi ini dapat berguna bagi semua kalangan, misalnya
dalam dunia pendidikan, bagi para mahasiswa, teknologi telekonferensi ini dapat
digunakan sebagai sarana komunikasi antarsesama dosen ataupun dengan sesama
mahasiswa. Jika misalnya dosen tidak mampu hadir di dalam kelas untuk
memberikan kuliah, maka dengan adanya teknologi ini membuat mahasiswa semakin
terbantu, sebab dosen tidak harus hadir, ia bisa memberikan mata kuliahnya di
suatu tempat dengan waktu secara real time.
Selain itu pemanfaatan teknologi ini digunakan di dunia kerja, misalnya
ketika diadakan sebuah rapat penting, sedangkan pimpinan perusahaan sedang
berada di luar negeri, ia bisa ikut serta di dalam rapat dan bisa ikut
memberikan arahan yang penting bagi bawahannya.
Pekerjaan kantor adalah suatu kegiatan kesekretariatan dan administratif.
Segala sesuatu yang berkaitan dengan catat-mencatat, melakukan perjanjian,
memfasilitasi pertemuan, memberikan laporan, menyusun dokumen, menyimpan
dokumen, mengirimkan surat dan sebagainya. Untuk keperluan tersebut, terbentuk
suatu jalinan komunikasi formal maupun informal. Dengan berkembangnya teknologi
informasi, penggunaan perangkat komputer untuk perkantoran membuka era
otomatisasi perkantoran (Office Automation / OA).
Secara tidak terduga, jaringan internet yang tadinya hanya diperuntukkan
bagi lembaga-lembaga penelitian semacam perguruan tinggi ternyata berkembang
dan meluas penggunaannya di kalangan bisnis dan masyarakat. Akibatnya adalah
terhubungkannya beratus-ratus juta manusia (dan terus bertambah) ke dalam
sebuah arena jaringan yang sering dinamakan sebagai dunia maya (virtual world)
tersebut.
Dikatakan sebagai dunia maya karena arena ini tidak dapat dijamah atau
diraih secara fisik karena terbentuk dari koneksi hubungan digital antar
berbagai teknologi informasi (komputer dan telekomuniasi). Disamping itu, dunia
maya tidak memiliki batas-batas geografis (borderless) seperti halnya planet
bumi yang terbagi atas beberapa negara.
Telekonferensi dalam
Perusahaan
Fenomena eBusiness tidak dapat disangkal telah menjadi trend yang mewarnai
aktivitas bisnis di negara-negara maju maupun berkembang. Konsep baru yang
berkembang karena kemajuan teknologi informasi dan berbagai paradigma bisnis
baru ini dianggap sebagai kunci sukses perusahaan-perusahaan di era informasi
dan di masa-masa mendatang. Secara ringkas, Mohan Sawhney mendefinisikan
eBusiness sebagai:“The use of electronic networks and associated
technologies to enable, improve, enhance, transform, or invent a business
process or business system to create superior value for current or potential
customers”.
Secara prinsip definisi tersebut jelas memperlihatkan bagaimana teknologi
elektronik dan digital berfungsi sebagai medium tercapainya proses dan sistem
bisnis (pertukaran barang atau jasa) yang jauh lebih baik dibandingkan dengan
cara-cara konvensional, terutama dilihat dari manfaat yang dapat dirasakan oleh
mereka yang berkepentingan (stakeholders).
Seperti halnya pepatah yang mengatakan “banyak jalan menuju Roma”,
eBusiness merupakan salah satu jalan yang dimaksud untuk menuju kepada “the
creation of wealth” bagi sebuah perusahaan (harap diperhatikan bahwa eBusiness
bukanlah merupakan tujuan, atau “Roma” yang dimaksud dalam pepatah terkait).
Dengan kata lain, cakupan atau spektrum eBusiness dapat sangat luas wilayahnya
tergantung dari masing-masing orang melihat definisi dari kata “bisnis” itu
sendiri. Untuk dapat menangkap dimensi ruang lingkup pengertian eBusiness, cara
yang kerap dipakai adalah dengan menggunakan prinsip 4W yang dikemukakan oleh
Mohan Sawhney et.al., antara lain, yaitu: (What, Who, Where, dan Why).
· Dimensi WHAT
Banyak orang mempertukarkan istilah eBusiness dengan eCommerce. Secara
prinsip, pengertian eBusiness jauh lebih luas dibandingkan dengan eCommerce,
bahkan secara filosofis, eCommerce merupakan bagian dari eBusiness. Jika
eCommerce hanya memfokuskan diri pada aktivitas atau mekanisme transaksi yang
dilakukan secara elektronik/digital, eBusiness memiliki wilayah yang jauh lebih
luas, termasuk di dalamnya aktivitas relasi antara dua perusahaan, interaksi
antara perusahaan dengan pelanggannya, kolaborasi antara perusahaan dengan para
mitra bisnisnya, pertukaran informasi antara perusahaan dengan para pesaing
usahanya, dan lain sebagainya.
Adanya internet telah memungkinkan perusahaan untuk menjalin komunikasi
langsung maupun tidak langsung dengan berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar
entity (pelanggan, mitra, pesaing, pemerintah, dsb.) yang ada di dunia maya;
karena sifat komunikasi tersebut merupakan bagian dari sebuah sistem bisnis,
maka dapat dimengerti luasnya pengertian dari eBusiness.
· Dimensi WHO
Siapa saja yang terlibat di dalam eBusiness? Seperti yang tersirat dalam
definisinya, semua pihak yang melakukan interaksi dalam sebuah sistem bisnis
atau serangkaian proses bisnis (business process) merupakan pihak-pihak yang
berkepentingan dalam ruang lingkup eBusiness. Paling tidak ada tujuh (A sampai
G) klasifikasi yang kerap dipergunakan dalam mengilustrasikan eBusiness,
masing-masing: Agent, Business, Consumer, Device, Employee, Family, dan
Government.
Contohnya adalah sebuah aplikasi tipe eCommerce B-to-C yang merupakan
mekanisme hubungan perdagangan antara sebuah perusahaan dengan para
pelanggannya (end consumersnya), atau tipe G-to-G yang menghubungkan dua buah
negara untuk permasalahan eksport dan import; atau D-to-D yang menghubungkan
antara dua peralatan canggih teknologi informasi seperti antara PDA dengan
Handphone, atau B-to-F yang menghubungkan sebuah perusahaan penjual barang-
barang kebutuhan rumah tangga dengan berbagai keluarga, dan lain sebagainya.
· Dimensi WHERE
Tidak sedikit masyarakat awam yang mempertanyakan dimana sebenarnya
kegiatan bisnis dapat dilakukan dalam eBusiness. Jawabannya sangat singkat dan
mudah, yaitu dimana saja, sejauh pihak yang berkepentingan memiliki fasilitas
elektronik/digital sebagai kanal akses (access channel). Berbeda dengan bisnis
konvensional dimana transaksi biasa dilakukan secara fisik di sekitar
perusahaan yang bersangkutan, maka di dalam eBusiness, interaksi dapat
dilakukan melalui berbagai kanal akses.
Di rumah, seorang Ibu dapat menggunakan telepon atau webTV untuk
berkomunikasi dengan perusahaan penjual produk atau jasa, di kantor, seorang
karyawan dapat menggunakan perlengkapan komputer atau fax, di mobil, seorang
mahasiswa dapat menggunakan handphone atau PDA-nya, di lokasi keramaian seperti
mall, toko-toko, atau pasar, masyarakat dapat memanfaatkan ATM, Warnet, atau
Kios-Kios Telekomunikasi (Wartel) untuk melakukan hal yang sama. Dengan kata
lain, istilah dimana saja untuk melakukan hubungan dengan siapa saja bukanlah
sekedar semboyan yang muluk, tetapi telah menjadi kenyataan di dalam
implementasi eBusiness.
· Dimensi WHY
Pertanyaan terakhir yang kerap menghantui para pelaku bisnis tradisional
adalah mengapa para praktisi bisnis di seluruh dunia sepakat untuk
mengimplementasikan eBusiness sesegera mungkin sebagai model bisnis di masa
mendatang. Penerapan konsep eBusiness secara efektif tidak saja menguntungkan
perusahaan karena banyaknya komponen biaya tinggi yang dapat dihemat (cost
cutting), tetapi justru memberikan kesempatan perusahaan untuk meningkatkan level
pendapatannya (revenue generation) secara langsung maupun tidak langsung.
Dengan mengimplementasikan eBusiness, perusahaan dapat melihat berbagai
peluang dan celah bisnis baru yang selama ini belum pernah ditawarkan kepada
masyarakat. Disamping itu, terbukti telah banyak perusahaan yang melakukan
transformasi bisnis (perubahan bisnis inti) setelah melihat besarnya peluang
bisnis baru di dalam menerapkan konsep eBusiness. Yang tidak kalah menariknya
adalah, bahwa dengan menerapkan konsep jaringan (internetworking),
sebuah perusahaan berskala kecil dan menengah dapat dengan mudah bekerja sama
dengan perusahaan raksasa untuk menawarkan berbagai produk dan jasa kepada
pelanggan. Dan tidak jarang pula teradapat sebuah perusahaan berskala kecil
(dilihat dari jumlah karyawannya) yang pendapatannya dapat melebihi perusahaan
menengah maupun besar karena strategi efektif mereka dalam menerapkan
eBusiness.
E-Business dan
knowledge management
Knowledge Management (pengelolaan pengetahuan) adalah bagaimana manusia dapat
mengumpulkan aset pengetahuan (knowledge asset) dan
menggunakannya untuk mendapatkan keunggulan kompetitif. Sementara menurut pakar
internet Dr. Onno W. Purbo filosofi mendasar knowledge management adalah knowledge
is power, share it and it will multiply. Melalui cara berpikir semacam ini
diyakini bahwa Internet akan berperan besar dalam membuat masyarakat menjadi
pintar. Hal inilah yang merupakan dasar bagi timbulnya masyarakat berbasis
pengetahuan (knowledge-based society).
Dalam pengelolaan pengetahuan, dikenal istilah explicit
knowledge yaitu hasil pengetahuan yang telah
berwujud misalnya skripsi, tugas akhir, laporan penelitian, buku dan
semacamnya, serta tacit knowledge berupa pengetahuan yang masih tersimpan dalam kepala pemiliknya. Internet
merupakan platform yang amat menunjang pertukaran tacit knowledge, sedangkan
manajemen explicit knowledge akan ditunjang oleh pengembangan digital library
dengan konsekuensi bahwa proteksi pengetahuan seperti hak atas kekayaan
intektual (HAKI), hak cipta dan paten menjadi tidak relevan dalam pertukaran
informasi yang cepat.
Dengan adanya kemudahan berkomunikasi dengan menggunakan teknologi
multimedia, teleconference/ video conference, memungkinkan adanya proses
belajar mengajar jarak jauh melalui internet atau dikenal dengan istilah Cyber
Education/ Virtual University. Sehingga mahasiswa dapat kuliah dimana saja dan
kapan saja.
Melalui konsep di atas muncullah istilah cyber economic yang mengacu pada
optimal combination of existance and dynamic of real and virtual economic yang
menisbikan dimensi ruang dan waktu, sehingga akan memperbesar cakupan (coverage) dan memberikan kesempatan luas bagi
berkembangnya peluang-peluang di bidang ekonomi yang selama ini tidak atau
bahkan mustahil ditemukan di conventional economic.
Menurut sebuah badan riset (Gartner Research 1999) yang telah melayangkan
email ke 38 perusahaan financial services yang sering menerima dan memberikan
informasi melalui email diperoleh data-data sebagai berikut:
2 % tidak memberikan respon asli dari orang,
tapi hanya sebuah email otomatis
50% email tersebut mengucapkan terima
kasih
Rata-rata respon perusahaan terhadap
inquiry yang free of charge ialah 3 hari
Rata-rata respon terhadap inquiry yang
formal ialah 5 hari
25 % tidak pernah memberikan respon
Seperti data di atas terlihat bahwa memang masih ada perusahaan yang menyajikan web yang sangat menarik, namun belum menetapkan atau tepatnya mengetahui apa harapan pelanggan di suatu masyarakat khususnya negeri Indonesia yang mungkin memiliki kultur tertentu. Suatu kultur yang senang mencoba hal baru, dan terjebak dengan banyaknya promosi dari hal-hal baru tersebut.
Yang paling tidak disadari adalah, email dapat ditransfer ke orang atau
person yang berhak jauh lebih efektif daripada sebuah sambungan telepon
konvensional. Apakah mungkin menerapkan CTI application hingga ke meja manager
HRD apabila terjadi pertanyaan dari evaluator kartu kredit terhadap calon
pelanggan yang berasal dari perusahaan tersebut. Dengan email, dapat
disampaikan dan apabila media kapasitas messaging sangat besar, maka email ini
dijamin akan datang dan kemungkinan dibaca sekitar 70%. Secara internal di
kantor pun seorang staff dapat mencari alamat email managernya dengan address
book atau Global Address List (Microsoft).
Sebuah perusahaan akan dianggap bagus apabila mampu menghandle 90% dalam 2
jam bekerja. Angka tersebut merupakan angka maximum dari suatu penilaian good
quality service.
Layanan internet dan
mobile di industri perbankan
Industri perbankan, secara alami adalah bisnis yang sangat kompetitif dan
dibangun atas dasar kepercayaan nasabah. Ditengah lingkungan bisnis yang
dinamis, tantangan dunia perbankan sangat jelas, yaitu bagaimana layanan bank
tetap menguntungkan. Bagaimana meningkatkan kapasitas sumber daya agar mencapai
pertumbuhan yang lebih baik. Penerapan ICT (Information and Communication
Technology) di perbankan sudah tentu bukan untuk efisiensi
pengurangan SDM, apalagi di negeri kita yang sedang butuh lapangan pekerjaan.
Tetapi, teknologi justru diperlukan untuk meningkatkan produktivitas per SDM
melalui pengembangan bisnis.
Secara umum, terdapat dua aspek dimana ICT berdampak besar terhadap pola
bisnis suatu usaha, yaitu aspek Reach (jangkauan) and Richness (kaya manfaat). Pada fase awal, e-Business berdampak penghilangan perantara
(disintermediation). Pada proses disintermediation, perluasan bisnis (Reach)
berbanding terbalik dengan Richness. Misalnya, layanan perbankan umumnya
sederhana (Low Richness) yaitu hanya mencakup waktu dan nilai uang, sehingga
penggunaan e-Business pada layanan perbankan bisa menjangkau penetrasi layanan
yang luas, ATM tersebar di mana-mana (High Reach).
e-Business dengan didukung teknologi internet dan mobile mampu mengubah
kedua faktor menjadi sejalan. Fenomena ini disebut dengan dekonstruksi
(deconstruction). Misalnya, Toko Buku amazon.com dengan membuka layanan di
internet mampu menjangkau pelanggan yang luas (High Reach), dan kaya ragam
tawaran (High Richness) yaitu buku, elektronik, CD, dan lain sebagainya.
Demikian pula dengan layanan perbankan, melalui teknologi internet dan
mobile saat ini layanan perbankan sudah bergerak menjadi e-Commerce yang kaya
ragam tawaran. Misalnya memadukan layanan bank dan pembayaran (pajak, kartu
kredit, tagihan, isi ulang, dll) melalui terminal PC, PDA, atau perangkat
mobile nasabah. Inovasi bisnis berbasis ICT melalui teknologi internet dan
mobile memberi kemungkinan ekspansi dan produktivitas bisnis perbankan (reduksi
biaya per transaksi) dapat berjalan seiring.
Beberapa contoh meluasnya penerapan internet diperbankan misalnya: ABN AMRO
mengintegrasikan e-Business melalui sistem hub arus pembayaran di Internet
mendukung perdagangan global lintas ekonomi. HSBC Membangun kepercayaan jasa
dan transaksi keuangan on-line melalui internet; Bank of America, membangun
strategi portal untuk broker jasa perbankan. Di tanah air, BCA memiliki layanan
click and mobile melalui KlikBCA dan M-BCA.
Dengan meluasnya penggunaan Internet dan perangkat komunikasi mobile di
masyarakat, membuat distribusi biaya transaksi sebagian berpindah ke pelanggan
atau nasabah. Pada era brick and mortar, biaya transaksi sepenuhya
diinvestasikan oleh Bank meliputi mesin Teller dan ATM. Pada era click and
mortar, layanan perbankan memanfaatkan penyebaran PC yang telah tersedia di
nasabah. Sedang pada era click and mobile semakin banyak terminal adalah
perangkat nasabah, disamping terminal ATM yang telah ada.
Dengan demikian, biaya per transaksi di sisi bank akan terus menurun,
karena sebagian biayanya didistribusikan ke nasabah. Jumlah pelanggan selular,
posisi Juni 2003, sebesar lebih kurang 15 juta, dan telepon sebesar 7.5 juta,
secara potensial dapat mendistribusikan layanan bank. Speed, Flexibility, dan
Simplicity.
Apapun inisiatif bisnis tanpa melibatkan teknologi adalah ilusi, namun ICT
berkembang cepat diawali dengan ‘hype’, gelombang cepat ‘hype’ dihindari dengan
merangkul teknologi hanya pada tahap adanya kecerahan dan maturitas pasar. Oleh
karena itu, di Industri perbankan, proyek TI tidak akan habis sampai kapanpun,
karena life cycle teknologi yang cepat dan pelanggan semakin canggih dan melek
teknologi.
Teknologi IP (internet protocol) dengan atribut terbuka, mudah, murah
membawa konvergensi dari kompetensi ICT, sehingga pengembangan software bisa
dilakukan oleh kelompok-kelompok pengembangan in-house maupun outsourcing
sejauh sesuai dengan master plan dari Strategi TI-nya. Indikator yang menarik
adalah pada era 90-an, Menurut Standish Group Research, secara umum hanya 25%
proyek yang selesai sesuai waktu, anggaran, dan fitur yang dikehendaki. Pada
era konvergensi saat ini, 75% proyek TI berjalan baik. Isunya hanya tinggal
proyek sesuai skedul atau tidak.
Meskipun tingkat pertumbuhannya moderat (10-20%) tahun 2001-2002, dunia
perbankan dan keuangan yang paling hati-hati dalam menerapkan inisiatif
e-Commerce, telah mulai meningkat keyakinannya dalam menerapkan jasa keuangan
melalui internet dan mobilility. Penerapan Internet di perbankan berjalan dalam
fase-fase. Fase paling awal adalah sosialisasi untuk membangun e-culture yang
basisnya dimulai dari jaringan korporat (intranet), karena kita tidak bisa
melompat langsung ke internet sebelum sistem internal siap untuk menopangnya.
Setelah membangun e-culture, bank akan siap untuk mengkapitalisasi
kapabilitasnya ke dalam cara-cara baru untuk menggelar layanan kepada nasabah
dan mitra usaha. Baru kemudian pada tahap akhir, masuk ke fase transformasi
ekosistem finansial. Pada tahap ini akan terjadi efek berganda dari jaringan
internet, mobile, dan komunitas finansial, baik vertikal maupun horisontal.
Fase ini akan mengambil manfaat dari teknologi yang memberi keluwesan untuk
bisa melayani nasabah dengan cara yang lebih baik dengan biaya yang lebih
murah.
TREND PERKEMBANGAN TEKNOLOGI
Reviewed by Unknown
on
Monday, April 10, 2017
Rating:
Reviewed by Unknown
on
Monday, April 10, 2017
Rating:

No comments: